Tambrauw – AS China dan Jepang Afrika kini menjadi medan geopolitik penting dalam persaingan global untuk mengamankan mineral kritis yang vital untuk industri teknologi dan energi bersih.
China telah lama memimpin akses ke tambang mineral penting di Afrika, termasuk kobalt, litium, tembaga, dan mineral tanah jarang.
Di Republik Demokratik Kongo (RDK), China memiliki kendali signifikan atas sekitar 72% tambang kobalt dan tembaga melalui perusahaan seperti CMOC.

China juga menguasai lebih dari 75% kapasitas pemurnian kobalt global, memberi mereka leverage besar dalam rantai pasokan baterai global.
Baca Juga : Puluhan Rumah Dilaporkan Rusak Akibat Longsor di Raja Ampat
Namun, pendekatan ini dikritik karena memicu utang, memberi manfaat yang timpang bagi negara Afrika, dan menyoroti praktik diplomasi berbasis eksploitasi.
Kondisi seperti ini memicu protes, tuntutan transparansi, dan tantangan dari masyarakat sipil serta pemerintah Afrika sendiri untuk renegosiasi kontrak.
Berbeda dengan China, Jepang mulai memperluas penetrasinya di sektor mineral Afrika sebagai upaya diversifikasi pasokan.
Melalui JOGMEC, Jepang menjalin kerja sama eksplorasi kobalt dan litium dengan negara seperti Namibia, RDK, dan Zambia.
Jepang juga menegaskan niat investasi senilai US$1,5 miliar (sekitar Rp 24 triliun) untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan dan memperkuat hubungan Afrika.
Namun, investasi Jepang masih terbatas dibandingkan China. Misalnya, data investasi Jepang ke Afrika hanya meningkat dari ¥158 miliar (US$1,1 miliar) menjadi ¥171 miliar selama dekade terakhir—masih jauh di belakang negara seperti Prancis, Inggris, dan China
tahun 2025, para ahli mendorong Jepang memperkuat hubungan strategis dengan Afrika, termasuk pengembangan SDM dan dukungan infrastruktur agar investasi dapat optimal.
Secara keseluruhan, terdapat persaingan yang lebih luas antara AS, Jepang, dan negara Quad (AS, Jepang, India, Australia) untuk mengurangi dominasi China dalam pasokan mineral kritis.
Kelompok Quad meluncurkan inisiatif mineral kritis untuk memastikan pasokan mineral stabil dan aman dari potensi pemaksaan ekonomi.
Temuan tersebut memicu kritik terhadap rendahnya standar lingkungan dan perlindungan di proyek yang dibiayai China
Di pundak pelanggan global, ketersediaan mineral seperti kobalt dan litium memengaruhi industri kendaraan listrik serta transisi energi bersih.
















