Tambrauw – Amuk Warga Sampang Suasana di Alun-Alun Trunojoyo, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, mendadak mencekam pada Kamis (30/10) sore. Ratusan warga dari beberapa desa di wilayah Kabupaten Sampang mengamuk dan melakukan aksi perusakan terhadap fasilitas umum. Mereka menuntut Pemerintah Kabupaten Sampang segera melaksanakan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) yang sudah lama tertunda.
Aksi yang semula berlangsung damai berubah ricuh setelah massa merasa tidak mendapat kejelasan dari pihak pemerintah daerah. Mereka menilai bahwa penundaan pelaksanaan Pilkades telah menimbulkan ketidakpastian dan ketegangan sosial di masyarakat desa.
Menurut pantauan di lokasi, massa mulai berkumpul sejak pukul 13.00 WIB. Mereka membawa spanduk dan poster bertuliskan tuntutan agar pemerintah segera menetapkan jadwal Pilkades. Beberapa di antaranya juga meneriakkan yel-yel menolak penundaan yang dianggap tidak masuk akal.

Baca Juga : Tampang Anggota KKB Dugi Telenggen Pembunuh Brigadir Joan di Lanny Jaya
Sekitar pukul 15.00 WIB, situasi mulai memanas Massa mulai melempari petugas dengan batu dan botol plastik, serta merusak pagar pembatas di area Alun-Alun. Sebagian bahkan membakar ban bekas di tengah jalan sebagai bentuk protes keras terhadap kebijakan pemerintah daerah yang dianggap lamban dan tidak transparan.
“Kami sudah lama menunggu. Janjinya Pilkades digelar tahun ini, tapi sampai sekarang tidak ada kepastian. Desa kami butuh pemimpin yang sah, bukan hanya pejabat sementara,” ujar Abdullah (45), salah satu warga Desa Tamberu Barat yang ikut dalam aksi.
Ketegangan dengan Aparat di Lapangan
Petugas gabungan dari Polres Sampang dan Kodim 0828 yang diterjunkan untuk mengamankan jalannya aksi sempat kewalahan menghadapi massa yang terus bertambah. Beberapa kali, bentrokan kecil tak terhindarkan ketika aparat mencoba membubarkan massa yang berusaha menerobos pagar pembatas alun-alun.
Kapolres Sampang, AKBP Siswantoro, mengatakan bahwa pihaknya sudah berupaya melakukan pendekatan persuasif agar warga tenang dan tidak melakukan tindakan anarkis. Namun, situasi di lapangan berkembang cepat di luar kendali.
“Kami sudah imbau berulang kali agar warga menahan diri dan menyalurkan aspirasi secara damai. Tapi sebagian massa bertindak di luar batas. Kami terpaksa melakukan tindakan tegas terukur untuk menjaga keamanan,” ujar Siswantoro saat dikonfirmasi usai kejadian.
Dalam kejadian tersebut, beberapa fasilitas umum di kawasan Alun-Alun Trunojoyo dilaporkan rusak, termasuk lampu taman, pot bunga, dan papan informasi. Sejumlah kendaraan dinas yang terparkir di sekitar area juga terkena lemparan batu. Aparat kepolisian akhirnya menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa yang mulai bertindak anarkis.
Akibat insiden itu, empat orang warga dan dua anggota polisi dilaporkan mengalami luka ringan. Mereka langsung mendapat pertolongan di RSUD Sampang. Hingga malam hari, petugas masih berjaga di sekitar alun-alun untuk mencegah terulangnya aksi serupa.
Akar Masalah: Pilkades yang Tertunda
Sumber masalah utama dari aksi tersebut adalah penundaan pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak yang sedianya dijadwalkan berlangsung pada tahun 2025 ini. Pemerintah Kabupaten Sampang sebelumnya menunda pelaksanaan Pilkades dengan alasan belum rampungnya regulasi teknis serta adanya evaluasi terhadap daftar calon kepala desa.
Namun, keputusan itu memicu kekecewaan dari banyak warga desa, terutama di daerah yang sudah lama dipimpin oleh penjabat kepala desa (Pj Kades). Warga menilai keberadaan pejabat sementara terlalu lama, dan hal itu berdampak pada pelayanan publik serta program pembangunan desa yang mandek.
















